Juni 4, 2025 • Berita • by Reina Ohno (Translated by Yuliani Israela.)

Makna Cinta di Indonesia: Nilai Pernikahan, Budaya, dan Perbedaannya dengan Jepang

Makna Cinta di Indonesia: Nilai Pernikahan, Budaya, dan Perbedaannya dengan Jepang

Indonesia adalah negara dengan keragaman budaya yang luar biasa, mulai dari populasi Muslim terbesar di dunia hingga komunitas Tionghoa-Indonesia yang erat. Oleh karena itu,Nilai-nilai cinta dan pernikahan di sini dibentuk secara unik oleh agama, tradisi, dan pengaruh keluarga.

Artikel ini akan mengupas tuntas pandangan masyarakat Indonesia terhadap asmara, tantangan yang dihadapi, hingga perbandingannya dengan budaya di Jepang.

1. Cinta dalam Balutan Budaya dan Tradisi

Falling in love by Timedoor

a. Konsep Cinta dalam Budaya Tradisional

Di Indonesia, cinta sering kali dikaitkan dengan kesetiaan, pengorbanan, dan tanggung jawab. Setiap suku memiliki filosofi tersendiri:

  • Budaya Jawa: Mengenal filosofi “Sumeleh” (pasrah/berserah) dan “Nrimo” (menerima apa adanya) yang menekankan pentingnya menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.

  • Budaya Batak: Memegang konsep “Dalihan Na Tolu”, di mana pernikahan bukan sekadar penyatuan dua individu, melainkan hubungan antar seluruh keluarga besar.

  • Budaya Minangkabau: Dipengaruhi sistem matrilineal, di mana peran keluarga perempuan sangat dominan dalam urusan asmara dan pernikahan.

Perspektif Pria vs Wanita Indonesia:

  • Pria Indonesia: Umumnya diharapkan menjadi pemimpin. Dalam nilai tradisional (terutama Islam), pria adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab secara finansial dan emosional.

  • Wanita Indonesia: Sangat menghargai opini keluarga. Meskipun kini banyak wanita karier yang mandiri, nilai-nilai kesantunan dan menjaga kehormatan sebelum menikah tetap dijunjung tinggi.

b. Perjodohan dan Restu Keluarga

イスラム教の見合い結婚と家族の承認

Meskipun zaman sudah modern, restu keluarga tetap menjadi “kunci utama”. Dulu, perjodohan dilakukan untuk menjaga kehormatan keluarga, stabilitas ekonomi, atau kesamaan agama. Saat ini, meski love marriage (menikah karena cinta) lebih dominan, banyak pasangan tetap mengutamakan persetujuan orang tua sebelum melangkah ke pelaminan.

c.Poin Penting dalam Hubungan dan Pernikahan dengan Etnis Tionghoa-Indonesia (Suku Hokkien)

Etnis Tionghoa-Indonesia, khususnya suku Hokkien, memiliki akar budaya dan nilai-nilai yang kuat. Jika Anda berencana menjalin hubungan serius atau menikah dengan anggota komunitas ini, berikut adalah beberapa aspek yang perlu dipahami:

  • Pentingnya Restu Keluarga Besar Ikatan keluarga dalam komunitas Tionghoa sangatlah erat. Keputusan memilih pasangan hidup sering kali melibatkan pertimbangan orang tua hingga kakek-nenek. Tanpa restu mereka, proses menuju jenjang pernikahan bisa menjadi tantangan yang sangat berat.

  • Stabilitas Ekonomi sebagai Fondasi Secara tradisional, keluarga Tionghoa menjunjung tinggi stabilitas ekonomi. Latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan prospek masa depan pasangan sangat diperhatikan. Bagi pria, memiliki pekerjaan yang mapan dianggap sebagai bukti tanggung jawab dalam menafkahi keluarga.

  • Pertimbangan Perbedaan Agama Mayoritas komunitas Tionghoa-Indonesia memeluk agama Kristen, Katolik, Buddha, atau Konghucu. Pernikahan beda agama—terutama dengan Muslim—memerlukan komunikasi yang sangat mendalam karena perbedaan gaya hidup dan hukum pernikahan di Indonesia yang cukup kompleks.

  • Penghormatan terhadap Tradisi dan Perayaan Nilai kekeluargaan sering tercermin dalam hari raya besar seperti Imlek (Tahun Baru Cina), Ceng Beng (Ziarah Makam), dan Pwee Gee (Festival Musim Gugur). Kehadiran dan partisipasi aktif pasangan dalam acara keluarga ini sangat dihargai sebagai bentuk penghormatan.

  • Kecenderungan Menikah Sesama Etnis Meski zaman sudah modern, sebagian keluarga masih memiliki preferensi agar anak mereka menikah dengan sesama etnis Tionghoa. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesamaan nilai budaya dan mempermudah komunikasi antar-keluarga besar.

  • Bahasa dan Dialek Lokal Di beberapa kota (seperti Medan atau Bagansiapiapi), dialek Hokkien masih digunakan sehari-hari dalam lingkungan keluarga. Menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari kosakata sederhana atau memahami kebiasaan mereka dapat membantu mencairkan suasana dengan calon mertua.

Data Statistik & Demografi Terkait

Berdasarkan sensus penduduk dan data demografi di Indonesia:

  • Populasi: Etnis Tionghoa diperkirakan mencakup sekitar 1,2% hingga 2,8% dari total populasi Indonesia (lebih dari 7-8 juta jiwa).

  • Distribusi Agama: Berdasarkan data kependudukan, sekitar 50% etnis Tionghoa-Indonesia beragama Kristen/Katolik, 40% Buddha/Konghucu, dan sisanya memeluk Islam atau keyakinan lain.

  • Suku Bangsa: Suku Hokkien adalah kelompok terbesar di antara etnis Tionghoa di Indonesia, diikuti oleh suku Hakka, Teochew, dan Kantonis.

 

Pengaruh Agama Terhadap Pandangan Asmara

Islamic Indonesia

Indonesia mengakui keberagaman keyakinan, di mana setiap agama memiliki ajaran mendalam mengenai cinta, hubungan, dan institusi pernikahan.

Islam (Agama Mayoritas)

Sekitar 87% penduduk Indonesia adalah Muslim, sehingga nilai-nilai Islam sangat mendominasi norma sosial terkait asmara.

  • Nilai Utama: Menekankan pada tanggung jawab, legitimasi hukum agama, dan menjaga kehormatan (chastity). Hubungan di luar nikah sangat dilarang.

  • Proses Ta’aruf: Sebuah metode perkenalan antara pria dan wanita yang didampingi oleh pihak ketiga (keluarga atau tokoh agama) dengan tujuan langsung ke jenjang pernikahan.

  • Pernikahan: Restu keluarga adalah syarat mutlak. Pernikahan beda agama secara legal dan sosial sering kali menghadapi jalan buntu atau tantangan yang sangat berat.

Kristen Protestan dan Katolik

Mencakup sekitar 10% populasi, umat Kristiani di Indonesia memandang cinta sebagai refleksi dari kasih Tuhan.

  • Konsep Agape: Cinta yang tulus, tanpa pamrih, dan penuh pengorbanan sebagaimana ajaran Yesus Kristus.

  • Sakramen Pernikahan: Pernikahan dianggap suci dan merupakan ikatan seumur hidup; perceraian sangat dihindari dan dianggap sebagai upaya terakhir.

  • Ketentuan Gereja: Beberapa denominasi memiliki aturan ketat mengenai pernikahan beda agama, di mana pasangan sering kali diminta untuk mengikuti keyakinan yang sama demi pemberkatan nikah.

Hindu dan Buddha

  • Hindu (Mayoritas di Bali): Cinta dipahami sebagai bagian dari Dharma (kewajiban) dan Karma (hasil perbuatan). Hubungan yang baik dianggap sebagai buah dari kebajikan di masa lalu. Pernikahan bukan hanya urusan dua orang, tapi melibatkan komunitas adat yang disebut Banjar.

  • Buddha: Seperti halnya Hindu, pernikahan dipandang sebagai bagian dari perjalanan karma. Cinta kasih (Metta) diarahkan untuk membangun harmoni dalam rumah tangga.

Konghucu

Sangat berpengaruh pada komunitas Tionghoa-Indonesia, asmara dipahami melalui konsep “Ren” (kebajikan/kemanusiaan).

  • Esensi Cinta: Meliputi kesantunan, rasa hormat, dan tanggung jawab.

  • Kehormatan Keluarga: Pernikahan sangat berkaitan dengan nama baik keluarga, sehingga pemilihan pasangan dilakukan dengan pertimbangan yang sangat matang.

Tantangan Hubungan Beda Agama

Hubungan beda agama di Indonesia tetap menjadi salah satu isu sosial paling kompleks. Selain hambatan administratif di kantor pencatatan sipil, tekanan sering datang dari:

  1. Restu Orang Tua: Banyak keluarga yang mewajibkan pasangan memiliki iman yang sama.

  2. Konversi Agama: Sering kali menjadi solusi agar pernikahan bisa sah secara hukum agama masing-masing.

  3. Lingkungan Sosial: Prasangka masyarakat terkadang memberi tekanan tambahan bagi pasangan beda keyakinan.

Cinta dalam Masyarakat Modern: Transformasi Akibat Globalisasi

LDR

Perkembangan zaman dan keterbukaan informasi telah membawa pergeseran signifikan dalam cara masyarakat Indonesia memandang hubungan asmara.

a. Perubahan Gaya Pacaran

Dahulu, gaya pacaran di Indonesia cenderung sangat konservatif dan tertutup. Namun, di bawah pengaruh budaya Barat dan konten global, ekspresi romansa kini menjadi lebih liberal.

  • Fenomena “Relationship Goals”: Tren di media sosial telah memengaruhi standar kebahagiaan pasangan muda.

  • Gaya Hidup: Memberi hadiah mewah (surprise gifts) atau melakukan perjalanan wisata bersama (traveling) kini menjadi cara umum bagi pasangan untuk menunjukkan kasih sayang dan status hubungan mereka.

b. Teknologi dan Cinta: Aplikasi Kencan & Media Sosial

Kemajuan teknologi digital telah mengubah fundamental cara orang bertemu dan berinteraksi.

  • Popularitas Dating Apps: Aplikasi seperti Tinder, Tantan, dan Bumble telah menjadi hal yang lumrah di kalangan generasi Z dan Milenial, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

  • Stigma Digital: Meskipun populer, masih ada stigma sosial bahwa hubungan yang berawal dari aplikasi kencan dianggap “kurang serius” atau hanya untuk kesenangan sesaat dibandingkan perkenalan melalui teman atau keluarga.

  • Dampak Media Sosial: Budaya berbagi momen mesra melalui foto dan video di Instagram dan TikTok telah menjadi standar baru. Namun, hal ini juga membawa dampak negatif seperti tekanan sosial dan kecemasan (anxiety) akibat membandingkan hubungan pribadi dengan kehidupan “sempurna” orang lain yang tampil di layar.

Tantangan dalam Hubungan Asmara di Masyarakat Indonesia

Sunset bersama orang tersayang

Menjalani hubungan di Indonesia bukan tanpa hambatan. Terdapat berbagai faktor struktural dan sosial yang membayangi dinamika romansa masyarakatnya.

a. Pernikahan Dini dan Tekanan Sosial

Di beberapa wilayah, praktik pernikahan dini masih menjadi isu yang signifikan.

  • Faktor Penyebab: Masalah ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, serta tekanan sosial dari lingkungan yang menganggap menikah muda sebagai cara menghindari fitnah atau zina.

  • Data & Upaya: Pemerintah melalui BKKBN dan berbagai LSM terus mengampanyekan pendewasaan usia perkawinan (minimal 19 tahun berdasarkan UU Perkawinan No. 16 Tahun 2019) guna menekan risiko kesehatan dan perceraian.

b. Peran Gender dalam Asmara

Secara tradisional, masyarakat Indonesia menganut budaya patriarki di mana pria adalah pencari nafkah utama (breadwinner) dan wanita mengelola rumah tangga.

  • Pergeseran Nilai: Saat ini, partisipasi wanita dalam dunia kerja meningkat pesat. Hal ini mendorong pembagian peran yang lebih setara dalam hubungan, baik dalam hal finansial saat berkencan maupun pengambilan keputusan dalam rumah tangga.

c. Prasangka Antar-Etnis dan Kelas Sosial

Sebagai negara multikultural, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa sentimen primordial.

  • Tabu Sosial: Di komunitas tertentu, menikah dengan orang dari suku yang berbeda (misalnya antara suku yang dianggap memiliki sejarah konflik atau perbedaan karakter yang kontras) atau kelas ekonomi yang jauh berbeda masih dianggap tabu.

  • Progres Generasi: Generasi muda saat ini cenderung lebih terbuka dan menilai pasangan berdasarkan kepribadian dibandingkan latar belakang etnis.

d. Pandangan Terhadap Poligami

Poligami adalah isu yang sangat sensitif namun legal secara hukum bagi pria Muslim di Indonesia, dengan batasan maksimal empat istri.

  • Syarat Ketat: Berdasarkan UU Perkawinan, pria harus mendapatkan izin dari pengadilan, memiliki alasan yang sah (seperti istri tidak dapat menjalankan kewajiban), dan wajib mendapatkan persetujuan dari istri pertama.

  • Perspektif Sosial: Sikap masyarakat terbelah. Di daerah pedesaan tertentu, praktik ini masih diterima sebagai bagian dari ajaran agama. Namun, di perkotaan, poligami sering mendapat penolakan keras dari kelompok aktivis hak perempuan dan dianggap sebagai bentuk ketidakadilan gender.

  • Regulasi ASN: Sejak PP No. 10 Tahun 1983, aturan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) diperketat, di mana poligami hampir sulit dilakukan karena persyaratan birokrasi yang sangat rumit.

 

5. Perbandingan Budaya Cinta: Indonesia vs Jepang

romansa jepang VS Indonesia

Terdapat perbedaan mencolok dalam nilai-nilai asmara antara Indonesia dan Jepang yang dipengaruhi oleh latar belakang agama dan struktur sosial masing-masing negara.

Analisis Mendalam: Mengapa Berbeda?

Di Indonesia, cinta adalah “Urusan Bersama”. Agama berperan sebagai kompas moral yang mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pelanggaran terhadap norma asmara sering kali berujung pada sanksi sosial atau teguran keluarga.

Di Jepang, cinta adalah “Urusan Pribadi”. Fokus utamanya adalah harmoni antara dua individu dan keselarasan dengan gaya hidup masing-masing. Budaya Jepang yang cenderung menghindari konflik membuat ekspresi cinta lebih halus dan tersirat dibandingkan budaya Indonesia yang cenderung lebih ekspresif secara verbal.

Kesimpulan & Penutup

Memahami perbedaan budaya ini sangat penting bagi siapa pun yang sedang menjalin hubungan lintas negara (international relationship). Kuncinya adalah komunikasi dan rasa hormat terhadap nilai-nilai yang dipegang oleh pasangan.

Glosarium Istilah Penting

  • Sumeleh: Filosofi Jawa tentang penerimaan total terhadap keadaan.

  • Nrimo: Sikap bersyukur dan menerima pasangan apa adanya.

  • Dalihan Na Tolu: Sistem kekerabatan suku Batak yang mengatur tata krama antar keluarga.

  • Ta’aruf: Proses perkenalan dalam Islam tanpa melalui pacaran gaya Barat.

  • Poligami: Praktik memiliki lebih dari satu istri yang diatur ketat oleh undang-undang di Indonesia.

 

 

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Q1. Mana yang lebih umum di Indonesia: Menikah karena cinta atau dijodohkan?

A1: Menikah karena pilihan sendiri (love marriage) adalah tren utama saat ini. Namun, restu keluarga tetap memegang peranan vital. Praktik perjodohan tradisional masih dapat ditemukan di beberapa daerah pedesaan atau komunitas yang menjunjung tinggi adat tertentu, meskipun frekuensinya terus menurun.

Q2. Apa yang harus saya perhatikan saat berkencan dengan orang Indonesia?

A2: Hormatilah hubungan pasangan Anda dengan orang tua dan keluarga besarnya, karena pengaruh keluarga sangat kuat. Selain itu, memahami sensitivitas agama dan norma kesopanan lokal (seperti cara berpakaian dan perilaku di depan umum) adalah kunci keharmonisan hubungan.

Q3. Apakah perbedaan agama menjadi masalah saat menikahi seorang Muslim?

A3: Ya, Islam memiliki aturan ketat mengenai pernikahan beda agama. Secara umum, wanita Muslim tidak diperbolehkan menikah dengan pria non-Muslim. Sebaliknya, bagi pria Muslim yang ingin menikahi wanita non-Muslim, hukum di Indonesia biasanya mengharuskan salah satu pihak untuk berpindah keyakinan agar pernikahan tersebut sah secara agama dan negara.

Q4. Seperti apa budaya kencan di Indonesia?

A4: Secara umum, kontak fisik di tempat umum (PDA) cenderung dihindari. Kencan berkelompok (group dates) sering menjadi pilihan bagi mereka yang baru memulai hubungan. Meski anak muda di perkotaan mulai mengadopsi gaya Barat, nilai-nilai tradisional tetap dominan di sebagian besar wilayah.

Q5. Seberapa umum praktik poligami di Indonesia?

A5: Poligami legal namun merupakan praktik minoritas. Berdasarkan data nasional, diperkirakan hanya sekitar 1% hingga 3% pria Muslim yang melakukan poligami. Praktik ini sering mendapat kritik tajam di area perkotaan, terutama dari sudut pandang hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.

Q6. Bagaimana prosesi pernikahan dilakukan di Indonesia?

A6: Pernikahan di Indonesia biasanya dirayakan dengan megah. Umat Islam melakukan Akad Nikah, umat Kristen/Katolik melalui Pemberkatan di Gereja, dan umat Hindu Bali melakukan ritual adat yang sakral. Setiap suku (Jawa, Sunda, Batak, dll.) juga sering menyertakan upacara adat yang bisa berlangsung selama beberapa hari.

Q7. Prosedur apa yang diperlukan untuk pernikahan antara warga Jepang dan Indonesia?

A7: Pasangan harus mengikuti prosedur hukum kedua negara. Dokumen penting seperti Akta Kelahiran, Surat Keterangan Status Lajang (CNI), dan paspor harus disiapkan. Selain dokumen sipil, syarat administratif agama (seperti sertifikat mualaf atau surat baptis) sering kali menjadi tambahan wajib.

Butuh Aplikasi Mobile E-commerce untuk Bisnis Retail Anda? Tingkatkan jangkauan pasar dan loyalitas pelanggan dengan solusi digital terbaik. Pelajari lebih lanjut di APPMU

Testing