Juni 4, 2025 • Berita
Januari 18, 2025 • Berita • by Yutaka Tokunaga
Table of Contents
Bukalapak adalah salah satu startup paling dikenal di Indonesia dan pernah menjadi unicorn yang diidamkan banyak orang. Perusahaan ini berhasil mengumpulkan pendanaan besar secara berulang dan naik dengan cepat dari status unicorn hingga go public. Namun, persaingan sengit dari perusahaan lain membuat kinerja Bukalapak menurun drastis, dan harga sahamnya terus melemah. Dalam artikel ini, kita akan melihat perjalanan Bukalapak sekaligus meninjau industri startup di Indonesia.
Bukalapak, perusahaan e-commerce asal Indonesia, dulu menjadi simbol industri startup di Asia Tenggara sebagai “unicorn” yang bersinar. Perusahaan ini mengubah toko kecil dan pasar tradisional (warung) menjadi platform digital untuk transaksi online, sehingga cepat berkembang dan mendapat pujian sebagai “penyelamat ekonomi lokal”.
Pada Agustus 2021, Bukalapak melakukan IPO dan berhasil mengumpulkan dana sekitar 1,5 miliar USD (sekitar 1,700 miliar yen). IPO ini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia, dan saat itu Bukalapak tampak akan menegaskan posisinya sebagai perusahaan kebanggaan nasional.
Namun, kesuksesan ini tidak bertahan lama. Dengan kinerja yang terus menurun, pada Januari 2025 Bukalapak mengumumkan penutupan bisnis marketplace tradisionalnya dan fokus pada penjualan produk virtual. Langkah ini mencerminkan masalah mendasar yang dihadapi perusahaan, dan menunjukkan bagaimana mantan unicorn bisa kehilangan kilauannya dalam waktu singkat.
![]()
Sebelum IPO, Bukalapak menerima pendanaan besar dari venture capital dan investor besar lainnya, membentuk citra perusahaan teknologi yang sedang tumbuh pesat. Namun, muncul pertanyaan apakah valuasi perusahaan dibesar-besarkan.
Yang menjadi sorotan utama adalah model bisnis dan pertumbuhan yang sebenarnya kurang transparan. Bukalapak mengusung citra sosial dengan mendukung UKM lokal, tetapi kenyataannya banyak transaksi dengan margin rendah, sehingga struktur bisnisnya mungkin kurang berkelanjutan. Tim yang memimpin IPO dikritik karena lebih fokus pada penggalangan dana jangka pendek tanpa memperjelas visi jangka panjang perusahaan.
Setelah IPO, harga saham Bukalapak turun 6,76% hanya dalam 3 hari, mencapai batas perdagangan terendah. Hal ini menunjukkan kekecewaan pasar muncul sangat cepat setelah debut perusahaan di bursa.
Yang lebih mengejutkan, dalam 5 bulan, valuasi perusahaan menyusut dari sekitar 7,6 miliar USD menjadi kurang dari 2,6 miliar USD, kehilangan lebih dari 66% nilai hanya dalam beberapa bulan. Situasi ini menjadi pukulan besar bagi investor.
Faktor utama di balik penurunan ini termasuk pertumbuhan pendapatan yang lambat, persaingan yang semakin ketat, dan masalah manajemen internal. Hilangnya kepercayaan pasar membuat Bukalapak kesulitan untuk melakukan pemulihan selanjutnya.
![]()
Achmad Zaky, salah satu pendiri sekaligus CEO pertama Bukalapak, mengundurkan diri dari jabatannya pada Januari 2020. Kepergian pemimpin yang telah bersama perusahaan sejak awal ini mengguncang konsistensi dan kepercayaan internal. Kekacauan kepemimpinan seperti ini juga menjadi faktor yang meningkatkan kewaspadaan investor.
Rachmat Kaimuddin, yang memimpin IPO Bukalapak, mengundurkan diri sebagai CEO pada Desember 2021, hanya beberapa bulan setelah perusahaan melantai di bursa. Pengunduran diri ini menimbulkan spekulasi bahwa ia bertanggung jawab atas ketidakmampuan perusahaan menghadapi tantangan pasca-IPO, menciptakan gelombang kekhawatiran di dalam dan luar perusahaan.
![]()
Peran Pendiri: Achmad Zaky
Penurunan harga saham dan serangkaian pengunduran diri pemimpin menjadi sumber kekhawatiran besar bagi investor. Investor yang ikut serta dalam IPO mengalami kerugian signifikan dalam waktu singkat, sehingga kepercayaan terhadap perusahaan menurun. Selain itu, kejadian ini juga berdampak pada pasar startup Indonesia secara keseluruhan.
Beberapa pihak berpendapat bahwa, “kegagalan Bukalapak menunjukkan bahwa investasi pada startup tidak selalu menjamin kesuksesan,” mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam menanamkan modal pada industri startup.
Kisah Bukalapak menyoroti risiko dan tantangan yang dihadapi startup. Fokus yang berlebihan pada penggalangan dana jangka pendek tanpa strategi pertumbuhan yang berkelanjutan menjadi salah satu penyebab runtuhnya perusahaan.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi pasar startup Indonesia, sekaligus mengingatkan investor dan perusahaan tentang pentingnya menilai nilai riil sebelum membuat keputusan. Cerita Bukalapak mengajak kita mempertanyakan apa arti kesuksesan sejati bagi sebuah perusahaan, dan menekankan pentingnya keputusan yang hati-hati dan visi jangka panjang dalam membangun masa depan startup.
Untuk bisnis di Indonesia, Timedoor merayakan ulang tahun ke-10
Pengembangan sistem, layanan pendidikan IT, pendidikan bahasa Jepang, dan layanan penempatan tenaga kerja, serta layanan dukungan masuk pasar
![]()
Looking for E-commerce MobileApp for your Retail business? Learn more on APPMU
beberapa entri blog lain yang mungkin anda minati