Januari 22, 2025 • Case Study, Berita, Bisnis • by Yutaka Tokunaga

Skandal eFishery: Apakah Mimpi Unicorn Indonesia Berakhir di Sini?

Skandal eFishery: Apakah Mimpi Unicorn Indonesia Berakhir di Sini?

Industri startup di Indonesia telah mencatat pertumbuhan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, melahirkan deretan perusahaan unicorn yang membanggakan. Namun, munculnya dugaan skandal laporan keuangan (accounting fraud) di eFishery kini mengguncang kredibilitas seluruh industri teknologi tanah air.

Di tengah situasi di mana GoTo dan Bukalapak sudah melantai di bursa saham, namun startup non-fintech lainnya masih tertatih-tatih untuk tumbuh atau mencapai exit, eFishery—yang bergerak di sektor agritech—sebelumnya dianggap sebagai “bintang harapan” baru bagi ekosistem startup Indonesia.

Sayangnya, harapan tersebut terbentur fakta pahit. Berdasarkan hasil investigasi internal, eFishery dilaporkan telah memanipulasi data keuangan mereka secara masif:

  • Laporan Awal: Pendapatan sebesar $752 juta dengan laba $16 juta.

  • Fakta Sebenarnya: Pendapatan hanya sebesar $157 juta dengan kerugian mencapai $35,4 juta.

Discrepancy atau perbedaan angka ini menunjukkan bahwa mayoritas pendapatan yang dilaporkan selama ini diduga kuat adalah fiktif.

Mengenal eFishery: Bisnis dan Layanan Utama

Sebagai pelopor di bidang akuakultur, eFishery menawarkan solusi berbasis teknologi untuk membantu pembudidaya ikan dan udang. Berikut adalah dua layanan inti mereka:

  • eFisheryFeeder: Alat pemberi pakan otomatis berbasis teknologi IoT (Internet of Things). Teknologi ini membantu pembudidaya mengefisiensikan proses pemberian pakan serta mengoptimalkan pertumbuhan komoditas mereka.

  • eFisheryKu: Sebuah platform terintegrasi bagi pembudidaya untuk mengelola seluruh ekosistem budidaya, mulai dari pembelian pakan, akses pendanaan, hingga platform untuk menjual hasil panen mereka secara langsung.

eFisheryFeeder berbasis IoT untuk tambak ikan dan udang di Indonesia - Timedoor Indonesia

 

Perjalanan eFishery Menuju Status Unicorn

Didirikan pada tahun 2013, eFishery merupakan startup di sektor akuakultur yang menyediakan alat pemberi pakan pintar berbasis teknologi IoT bagi para pembudidaya ikan dan udang. Melalui serangkaian pendanaan strategis, perusahaan ini berhasil tumbuh menjadi salah satu pemain utama di industri:

  • September 2015: Meraih pendanaan Seed Round sebesar $500.000 dari Aqua Spark (Belanda).

  • November 2018: Meraih pendanaan Seri A sebesar $4,7 juta dari Wavemaker Partners (AS) dan Maloekoe Ventures (Indonesia).

  • Agustus 2020: Meraih pendanaan Seri B sebesar $14 juta dari GO VC, Northstar Group, dan Endeavor.

  • Januari 2022: Meraih pendanaan Seri C sebesar $90 juta dari Temasek, Peak XV Partners, dan SoftBank Vision Fund.

  • Juli 2023: Meraih pendanaan Seri D sebesar $200 juta dari SoftBank dan Northstar Ventures.

  • Mei 2024: Mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar $30 juta dari HSBC (Inggris).

Melalui berbagai investasi tersebut, eFishery berhasil mencapai nilai valuasi perusahaan sebesar $1,4 miliar pada tahun 2023, yang menjadikannya sebagai startup agritech unicorn pertama di Indonesia.

Terbongkarnya Skandal dan Hasil Investigasi Internal

Pada Desember 2024, sebuah laporan dari whistleblower (pemberi informasi internal) mengungkap dugaan bahwa eFishery telah melakukan manipulasi laporan keuangan dengan menggelembungkan nilai pendapatan dan laba selama beberapa tahun.

Berdasarkan hasil investigasi internal untuk periode Januari hingga September 2024, ditemukan ketidaksesuaian data yang sangat mencolok:

Keterangan Laporan kepada Investor Fakta Investigasi (Sebenarnya)
Pendapatan $752 Juta $157 Juta
Laba/Rugi $16 Juta (Laba) $35,4 Juta (Rugi)

Temuan ini menunjukkan bahwa sekitar 75% dari pendapatan yang dilaporkan adalah fiktif atau palsu. Manipulasi data sebesar ini menjadi salah satu skandal keuangan startup terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Krisis Kepemimpinan: Pencopotan CEO dan CPO

Menyusul terungkapnya kasus fraud atau kecurangan akuntansi ini, dewan direksi segera mengambil langkah tegas. Dua tokoh kunci sekaligus pendiri perusahaan, yaitu Gibran Huzaifah (CEO) dan Chrisna Aditya (CPO), resmi diberhentikan dari jabatan mereka.

Untuk menjaga stabilitas perusahaan di tengah kekacauan ini, manajemen menunjuk jajaran pimpinan sementara:

  • Adi Wibisono (CFO) diangkat sebagai Interim CEO (CEO Sementara).

  • Albertus Sasmitra diangkat sebagai Interim CFO (CFO Sementara).

Krisis kepemimpinan ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pemangku kepentingan mengenai masa depan operasional dan kredibilitas eFishery di pasar global.

Mantan CEO eFishery Gibran Huzaifah - Timedoor Indonesia
Gibran Huzaifah

 

Efek Domino: Berbagai Masalah di Ekosistem Startup Indonesia

Kasus eFishery bukanlah insiden tunggal. Dalam beberapa waktu terakhir, industri startup Indonesia terus dihantam oleh berbagai laporan mengenai manipulasi keuangan, penyalahgunaan wewenang, hingga kebangkrutan:

  • Penyalahgunaan Dana di Investree: Perusahaan peer-to-peer lending ini harus kehilangan izin usahanya setelah OJK menemukan adanya dugaan penyalahgunaan dana oleh sang pendiri.

  • Penghentian Operasional Zenius: Startup pendidikan (edtech) legendaris, Zenius, resmi berhenti beroperasi pada Januari 2024 akibat tantangan operasional yang berkepanjangan.

  • Penyusutan Bisnis Bukalapak: Raksasa e-commerce Bukalapak terpaksa menghentikan penjualan barang fisik karena persaingan yang terlalu ketat, yang mengakibatkan harga sahamnya anjlok drastis.

  • Kebangkrutan UangTeman: Pionir pinjaman online ini juga dicabut izin usahanya oleh regulator akibat masalah finansial yang kronis.

Opini: Apakah Krisis Integritas Menghancurkan Mimpi Unicorn Indonesia?

Secara pribadi, saya merasa sangat menyayangkan kejadian ini. Di antara deretan unicorn Indonesia yang didominasi oleh sektor keuangan dan e-commerce, eFishery—yang fokus pada agritech dan deep-tech—adalah “harapan baru” bagi Indonesia. Harapan bahwa teknologi bisa menyentuh sektor riil seperti perikanan.

Skandal laporan keuangan eFishery mencerminkan masalah mendasar dalam ekosistem kita: kurangnya transparansi dan integritas. Dampaknya tidak hanya merugikan satu perusahaan, tetapi juga merusak reputasi seluruh industri di mata dunia. Investor global akan menjadi jauh lebih skeptis, dan penggalangan dana (fundraising) ke depannya akan jauh lebih sulit.

Untuk mencegah kehancuran “Mimpi Unicorn Indonesia”, penguatan Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) dan transparansi adalah harga mati. Keberhasilan dan pertumbuhan sebuah perusahaan seharusnya dibangun di atas landasan integritas dan moralitas para pemimpinnya.

Semoga kasus eFishery menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar industri startup Indonesia bisa berbenah, memulihkan kepercayaan, dan melangkah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Untuk bisnis di Indonesia, Timedoor merayakan ulang tahun ke-10

Pengembangan sistem, layanan pendidikan IT, pendidikan bahasa Jepang, dan layanan penempatan tenaga kerja, serta layanan dukungan masuk pasar

Hubungi Kami.

Testing